Grégoire de Fournas Rasis, Parlemen Prancis Dihentikan

Kiri: Carlos Marten Bilongo. Kanan: Gregoire de Fournas. Source: Akurat.co

Teriakan anggota parlemen Gregoire de Fournas yang merupakan perwakilan Partai sayap kanan Rassemblement National (RN) dalam pertemuan Majelis Nasional atau Majelis Rendah Parlemen Prancis menyebabkan kegaduhan pada hari Kamis, 3 November 2022.

Insiden tersebut terjadi ketika Carlos Marten Bilongo, salah satu anggota parlemen kulit hitam sekaligus perwakilan Partai sayap kiri La France Insoumise (LFI) dalam Majelis Nasional sedang menyampaikan permintaan kepada pemerintah Prancis untuk bekerja sama dengan negara-negara Uni Eropa untuk membantu para imigran dari Afrika yang diselamatkan dari laut Mediterania.

Seketika itu de Fournas menyela pembicaraan Marten Bilongo dengan berteriak “Kembali ke Afrika”. Hal tersebut sontak membuat parlemen gaduh dan Marten Carlos menghentikan pembicaraannya.

Yael Braun-Pivet, Ketua Parlemen Prancis melemparkan pertanyaan kepada forum mengenai siapa yang mengatakan kalimat itu. Beberapa anggota parlemen lain kemudian menyoraki de Fournas untuk keluar dari tempat itu. Kemudian, Yael Braun-Pivet menghentikan sementara rapat parlemen tersebut selama lima menit.

Teriakan de Fournas menyebabkan timbulnya dua persepsi mengenai apa yang ia ucapkan, antara ia berkata “Dia harus kembali ke Afrika” yang ditujukan kepada Bilongo atau “Mereka harus kembali ke Afrika” yang ditujukan kepada para migran Afrika. Sebab, dalam tata bahasa Prancis, pelafalan “dia” dan “mereka” memiliki bunyi yang sama.

Pendiri Partai LFI Jean-Luc Antoine Pierre Mélenchon merespon insiden tersebut dengan membuat cuitan yang ditujukan kepada de Fournas melalui akun Twitter pribadinya.

“Memalukan. Ini adalah #RN partai perang sipil dan rasisme. Komentar seperti itu dalam Majelis Nasional Prancis tidak dapat ditoleransi. Penjatuhan denda dan pengeluaran si penghina harus diputuskan!” – Jean-Luc Mélenchon (@JLMelenchon).

Presiden kelompok Partai LFI di Majelis Nasional Mathilde Panot menuntut agar de Fournas dijatuhi hukuman berat atas apa yang telah ia lakukan sebagai anggota Parlemen Prancis.

De Fournas dan Partai RN melakukan pembelaan dengan mengklarifikasi ucapan de Fournas bahwa yang dimaksud adalah para imigran Afrika.

Melalui akun Twitter pribadinya, de Fournas mengatakan bahwa LFI bersikap manipulatif dengan membajak perkataannya.

“Manipulasi yang memalukan dari LFI yang membajak komentar saya. Ketika rekan anggota parlemen saya dari LFI menyebutkan SOS Méditerranée, saya sepenuhnya berasumsi bahwa saya menjawab “Bahwa mereka akan kembali ke Afrika”. Jawaban saya adalah tentang kapal dan para migran, jelas bukan rekan saya.” – Gregoire de Fournas (@gdefournas).

De Fournas mendapat dukungan dari beberapa anggota parlemen lainnya, terutama Presiden kelompok Partai RN di Majelis Nasional Marine Le Pen. Melalui akun Twitter pribadinya pula Marine Le Pen memberi dukungan kepada de Fournas.

“Gregoire de Fournas jelas berbicara tentang para migran yang diangkut dengan perahu oleh LSM yang disebutkan oleh rekan kami dalam pertanyaannya kepada pemerintah. Kontroversi yang diciptakan oleh musuh politik kita itu kasar dan tidak akan membohongi Prancis.” – Marine Le Pen (@MLP_officiel)

Carlos Marten Bilongo melayangkan pernyataan resmi kepada publik pada Kamis, 3 November 2022 pukul 19.05 (Pukul 01.05 WIB) terkait insiden rasisme di Majelis Nasional yang dilakukan Gregoire de Fournas.

Siaran Pers oleh Anggota Parlemen Carlos Martens Bilongo

Nama saya Carlos Martens Bilongo. Saya lahir di Prancis, di Villiers-le-Bel, pada tahun 1990. Saya dibesarkan di sana dan telah tinggal di sana sepanjang hidup saya.

Saya mendapat kehormatan besar karena terpilih sebagai wakil bangsa pada Juni 2022. Sebelumnya, saya adalah seorang guru dan aktivis asosiatif. Kamis ini, saya melakukan pekerjaan saya sebagai anggota parlemen, saya mengajukan pertanyaan kepada pemerintah. Seperti yang dilakukan setiap minggu di Majelis.

Saya tidak dapat menyelesaikan pertanyaan saya, karena seorang anggota National Rally menyela saya dengan berteriak, "Kembalilah ke Afrika!".

Saya tidak menyangka akan mendengar kata-kata ini suatu hari nanti di Majelis Nasional. Tapi rasisme selalu mengejar kami, bahkan di tempat-tempat paling bergengsi di Republik.

Saya melihat bahwa seluruh kelompok RN segera berkumpul di belakang orang yang menghina saya. Biarkan mereka memutarbalikkan kata-kata untuk membenarkan hal yang tidak dapat dibenarkan. Tapi mari kita serius, apakah dapat diterima jika seorang wakil berteriak tentang para pengungsi di kapal SOS Méditerranée dalam situasi kritis, "Mereka harus kembali ke Afrika"? Apakah rasisme menjadi begitu umum sehingga ungkapan ini dapat diterima?

Saya tegaskan bahwa dari bangku NUPES (Nouvelle Union Populaire Écologique et Sociale) hingga LR (Les Républicains), semua wakil yang hadir mendengar kalimat yang sama. Saksikan pernyataan presiden kelompok parlemen LR, yang terletak tepat di sebelah National Rally. Kebenaran akan segera terungkap.

Tamasya penuh kebencian ini mengangkat topeng bahaya yang masih diwakili oleh Reli Nasional untuk negara kita. Jika seorang wakil bisa meludah dengan mudah di hadapan wakil lain karena warna kulitnya, di tengah hemicycle (bentuk setengah lingkaran pada pola kursi Majelis Nasional), apa yang akan dia lakukan jika partainya berkuasa?

Peristiwa ini mengingatkan kita pada apa yang paling kanan di Prancis, penghinaan terhadap institusi dan kebencian jutaan rekan Prancis kita. Saya meminta permintaan maaf yang tulus. Tapi mereka tidak akan cukup, tidak ada lagi yang harus dilakukan wakil ini di Majelis.

Untuk semua orang yang membaca ini, saya meminta Anda untuk bersatu melawan racun rasisme.

Kamis ini, saya telah mengundang anak-anak dari daerah pemilihan saya ke Majelis untuk menghadiri Pertanyaan saya kepada pemerintah, dengan suatu kebanggaan. Saya memikirkan mereka. Untuk merekalah saya akan terus menjalankan amanat saya, tanpa harus membenarkan diri saya pada warna kulit saya. Dan agar akhirnya suatu hari nanti, mereka bisa hidup bebas dari rasisme, rasa kepuasan, dan kemajuan di negeri ini.

- Carlos­ Marten Bilongo

Majelis Nasional Prancis akan mengadakan pertemuan untuk melakukan pembahasan mengenai sanksi yang akan diberikan kepada Gregoire de Fournas pada Jumat, 4 November 2022.

Sanksi terberat yang mengancam de Fournas adalah berupa pengeluaran paksa sebagai anggota parlemen.

(Dimas Septo Nugroho)

Comments