Exit Poll: Benjamin Netanyahu Berpeluang Menjabat PM Israel Kembali

Benyamin Netanyahu Bersama Istri Tercinta. Source: FOX5 Vegas

Israel kembali menyelenggarakan pemilu nasional yang kelima dalam kurun waktu empat tahun terakhir pada Selasa (1/11). Pemilu dilakukan untuk memilih Knesset atau Parlemen Israel yang baru.

Selain itu, pemilu tersebut juga untuk menguji kelayakan Benjamin Netanyahu untuk kembali menjabat sebagai Perdana Menteri Israel.

Melalui exit poll atau jajak pendapat yang dilakukan oleh TV Israel, Mantan PM Israel Benjamin Netanyahu berada pada posisi yang baik. Partai Perdana Menteri terlama itu, Partai Likud diproyeksikan akan menguasai hingga seperempat kursi di parlemen, yaitu 30 hingga 32 kursi dari total 120 kursi.

Partai sayap kanan Israel yang lebih luas memenangkan hingga 50 persen atau sebanyak 62 kursi di parlemen.

Sedangkan Partai sentris Yesh Atid diproyeksikan akan memperoleh 22 hingga 24 kursi di parlemen dengan koalisinya yang lebih luas memperoleh 54 hingga 55 kursi.

Partai Yesh Atid merupakan partai Perdana Menteri Petahana Yair Lapid yang menjatuhkan kekuasaan Benjamin Netanyahu dalam pemilu tahun lalu.

Dilansir dari BBC, saat hasil jajak pendapat diumumkan pada pukul 22.00 (Pukul 03.00 WIB), terdapat pesta euforia Likud yang merupakan pendukung kubu Netanyahu dengan pengeras suara di Yerusalem.

“Ini awal yang baik,” tutur Netanyahu dalam video siaran saluran Kan 11 Israel.

Kemenangan tersebut tentu akan memuluskan jalan Benjamin Netanyahu untuk kembali berkuasa di Pemerintahan Israel. Namun, hasil jajak pendapat ini masih dapat berubah sewaktu-waktu. Sehingga, ada peluang perbedaan dalam hasil exit poll dengan hasil final real qount.

Benjamin Netanyahu sebagai politisi sayap kanan Israel nampaknya tidak disukai oleh lawan politiknya yang berasal dari pihak kiri dan tengah, tetapi ia sangat didukung oleh kelompok akar rumput Likud.

Netanyahu mendukung proyek pembangunan pemukiman Israel di Tepi Barat yang menurut hukum Internasional hal tersebut adalah ilegal. Meskipun demikian, Israel tetap membantahnya.

Dia juga menentang pembentukan negara Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza yang didukung oleh sebagian komunitas Internasional termasuk pemerintahan Biden di Amerika Serikat.

Dilansir dari Al Jazeera, analis politik senior Al Jazeera Marwan Bishara mangatakan bahwa pemerintah koalisi yang dipimpin Netanyahu memastikan tidak akan ada proses perdamaian dengan Palestina dan tidak akan ada penarikan dari wilayah pendudukan.

Saat ini, Netanyahu masih diadili atas tuduhan korupsi, suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan yang menjerat dirinya pada tahun 2019 lalu, meskipun ia dengan keras membantah tuduhan tersebut.

Netanyahu juga mendapat dukungan dari sesama pemimpin partai sayap kanan Israel lainnya seperti Itamar Ben-Gvir dari Partai Otzma Yehudit dan Bezalel Smotrich dari Partai Zionis Religius.

Presiden Israel Isaac Herzog mengunjungi Presiden Amerika Serikat Joe Biden di Gedung Putih pada pekan lalu. Hal tersebut dalam rangka merekatkan hubungan Israel-Amerika Serikat. Ia juga mengimbau kepada pemimpin Yahudi Amerika untuk menghormati hasil pemilu.

“Hasilnya mungkin tidak sesuai dengan keinginan Anda, tetapi suara rakyat Israel harus dihormati,” tutur Herzog dalam pidatonya di Federasi Yahudi Amerika Utara, dilansir dari The Times of Israel.

(Dimas Septo Nugroho)

(Baca juga di media Harian Disway di sini)

Comments