Amerika Serikat Selenggarakan Pemilu Mid-Term, Apa sih Itu?
![]() |
| Mid-Term Election 2022. Souce: The New Yorker |
Tidak hanya Pemilihan Presiden, Pemilu Mid-Term atau Pemilu Sela di Amerika Serikat juga tidak kalah populer. AS menggelar Pemilu Mid-Term pada hari Selasa, 8 November 2022 kemarin. Pemilu ini diadakan setiap dua tahun sekali dan di pertengahan masa jabatan Presiden.
Pemilu Mid-Term adalah
pemilihan untuk menentukan anggota kongres atau parlemen. Uniknya, pemilu
dilakukan setiap hari Selasa pada pekan pertama bulan November pada tahun
genap.
AS menggunakan sistem
bikameral atau dua lembaga sebagai badan legislatifnya yang terdiri dari
majelis tinggi yang disebut Senat dan majelis rendah yang disebut House of
Representatives (HOR) atau DPR.
Masa jabatan Senat adalah enam
tahun yang dapat dipilih kembali tanpa batasan periode, sedangkan masa jabatan House
of Representatives adalah dua tahun.
Pada Pemilu Mid-Term kali ini,
ada 100 kursi Senat dan 435 kursi DPR yang diperebutkan. Masing-masing negara
bagian akan memiliki dua orang wakil di Senat. Namun, jumlah perwakilan negara
bagian di DPR tergantung proporsi jumlah masyarakatnya.
Pemilu ini seringkali disebut
sebagai bentuk evaluasi bagi presiden petahana. Jika kinerja presiden tersebut
dinilai buruk kemudian mengakibatkan turunnya tingkat kepercayaan masyarakat,
maka partai lawan bisa saja ‘comeback’ dengan mendominasi kursi parlemen.
Namun, tidak menutup
kemungkinan jika hal sebaliknya akan terjadi. Partai presiden akan lebih
mendominasi parlemen jika tingkat kepercayaan masyarakat terhadap presiden
meningkat. Meskipun, secara historis hal ini sangat langka terjadi di AS.
Saat ini, tingkat kepercayaan
warga Amerika Serikat terhadap Presiden Joe Biden terus menurun, mungkin saja
Partai Demokrat akan kehilangan kursi di DPR. Sebagaimana dalam survei yang
telah dilakukan oleh Universitas Quinnipiac, hanya 36 persen warga AS yang
mengakui kinerjanya.
Hasil dari Pemilu Mid-Term ini
dapat mempengaruhi kekuasaan presiden jika partai lawan benar-benar mendominasi
parlemen. Pasalnya, jika Partai Republik merebut dominasi kongres, maka mereka
akan dengan mudah menggagalkan pelbagai kebijakan yang akan dibuat oleh Biden.
Serta Partai Republik juga akan
menguasai Komisi Penyelidikan, sehingga dapat menghentikan penyelidikan yang
sedang berlangsung atau meluncurkan penyelidikan baru. Sekalipun penyelidikan
tersebut memiliki maksud untuk melancarkan kepentingan kelompok konservatif.
Mantan Presiden AS Donald J.
Trump juga memberikan isyarat bahwa dirinya akan kembali maju dalam Pilpres
2024 mendatang.
“Dan sekarang untuk membuat
negara kita sukses dan aman dan mulia, saya akan sangat, sangat, sangat mungkin
melakukannya lagi, oke?”, Ucap Presiden ke-45 AS itu di hadapan para
pendukungnya.
Kinerja anggota parlemen dari
Partai Republik juga akan mempengaruhi kemenangan Trump dalam Pilpres 2 tahun
mendatang. Sebab, kinerja baik mereka akan meningkatkan tingkat kepercayaan publik
terhadap Partai Republik yang juga akan berdampak pada elektabilitas Trump
nantinya.
Hingga saat ini, perhitungan
sementara menunjukkan Partai Republik unggul atas Partai Demokrat dalam
perebutan kursi DPR. Sedangkan dalam perebutan kursi Senat, kedua partai
tersebut tengah imbang di angka 48 kursi sementara memperbutkan empat kursi
sisanya.
(Dimas Septo Nugroho)
(Baca juga di media Harian Disway di sini)

Comments
Post a Comment