Uji Coba Rudal Balistik Korea Utara Kembali Membuat Ketegangan di Semenanjung Korea
![]() |
| Kim Jong Un meninjau uji coba rudal balistik. Source: CNN Indonesia. |
Semenanjung Korea kembali menegang saat Korea Utara melakukan uji coba peluncuran dua rudal balistiknya pada hari Jumat.
Ketegangan
ini rupanya telah meningkat sejak Selasa lalu ketika Presiden Korea Selatan
Yoon Suk-yeol memberikan pidato anggaran dalam parlemen. “Sepertinya mereka
(Korea Utara) telah menyelesaikan persiapan untuk uji coba nuklir ketujuh,”
ucapnya.
Korea
Utara menembakkan rudal balistik jarak pendek dari daerah Tongchon, Provinsi
Kangwon ke perairan lepas pantai timur Semenanjung Korea pukul 11.59 dan 12.18
waktu setempat.
Uji
coba peluncuran rudal ini termasuk dalam tindakan provokasi serius serta dapat
mengancam stabilitas dan perdamaian di Semenanjung Korea, baik hubungannya
dengan Korea Selatan maupun dunia. Sebab, sebelumnya Dewan Keamanan PBB telah
memberikan larangan kepada Korea Utara mengenai peluncuran rudal balistik
tersebut.
Wakil
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Wendy Sherman mengatakan bahwa apa yang
dilakukan Korea Utara ini sangatlah sembarangan dan memicu destabilisasi.
Dilansir
dari CNN, peluncuran tersebut adalah yang ke-28 yang dilakukan oleh Korea Utara
pada tahun ini.
Dalam
sebuah pernyataan, Kepala Staf Gabungan Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya
telah meningkatkan pemantauan dan pengawasan dalam koordinasi yang erat dengan
Amerika Serikat.
Sementara
itu, Komando Indo-Pasifik Amerika Serikat menyatakan bahwa uji coba nuklir yang
dilakukan Korea Utara tidak menimbulkan ancaman secara langsung terhadap
personel, wilayah, dan sekutunya.
Korea
Utara mengatakan bahwa uji coba rudal balistik tersebut merupakan bentuk aksi
protes terhadap latihan gabungan Korea Selatan dan Amerika Serikat. Korea Utara
menganggap latihan terebut bersifat provokatif dan ada rencana untuk melakukan
invasi.
Namun,
Korea Selatan dan Amerika Serikat menyanggah dugaan Korea Utara itu dengan menyatakan
bahwa latihan gabungan Korea Selatan-AS adalah sebagai bentuk defensif dari
ancaman Korea Utara sendiri.
Dalam
merespon ambisi nuklir Korea Utara, telah terjadi perpecahan dalam internal
Dewan Keamanan PBB. Rusia dan Tiongkok berada pada sisi mendukung Korea Utara,
sedangkan anggota lainnya terus mendesak untuk memberikan sanksi kepada Korea
Utara.
(Dimas Septo Nugroho)

Comments
Post a Comment